+62 21 29555555
cs@duaputraperkasa.com

Suharjito: Dari Olahan, Budidaya, Sampai Penangkapan Ikan

Belasan tahun berkiprah dalam industri pengolahan bukanlah hal yang mudah bagi Suharjito, Direktur PT Dua Putra Perkasa yang juga lulusan Ekonomi Akuntansi dari salah satu universitas di Semarang ini. Banyak asam manis yang telah dirasakannya kala memulai usahanya lebih dari 12 tahun silam.

“Dulunya PT. Dua Putra Perkasa awalnya bergerak melakukan perdagangan dagingsapi. “Saat krisis moneter 1998 saya sempat memotong sapi dari Boyolali untuk dijual kemudian di Jakarta,” ujarnya kepada Trobos Aqua kala ditemui di sela-sela kesibukannya belum lama ini.

Ia mengaku sempat mengimpor daging setelah kondisi perekonomian membaik. “Saat itu saya telah membuat pabrik bakso. Perkembangan berikutnya, saya melihat peluang yang sama besar antara daging, unggas,dan ikan. Akhirnya saya putuskan untuk membuat pengolahan ikan,” terangnya lebih lanjut.

Sebelum melakoni usaha olahan, pada 1990 ia datang dari Jepara ke Jakarta sebagai kontraktor berkembang hingga menjadi developer. Nampaknya terpaan krisis moneter membuatnya mengubah haluan 180o menjadi pengusaha pangan. Jumlah sapi yang dipotongnya kala itu mencapai 200 ekor per hari guna mencukupi pasar Ibukota.

Setelah ia kembangkan ke usaha olahan ikan, kini ia memiliki lini produk bakso, kornet, dan olahan ikan lainnya. “Produk olahan ikan yang paling diminati sejauh ini oleh konsumen adalah bakso ikan,” ujarnya.

Untuk olahan ikan ia pusatkan di pabriknya yang berada di Pondok Gede sedang untuk olahan daging dan unggas ia fokuskan di Cipendawa. Kapasitas pabrik yang hanya mampu memproduksi 15 ton olahan per hari dirasa kurang oleh bapak tiga anak ini. Melihat potensi pasar yang masih luas, ia pun menangkap peluang dengan mengambangkan pabriknya agar mampu berproduksi lima kali lebih banyak di 2016 ini.

Selain pasar domestik, perusahaan yang dipunggawainya menyasar pasar Taiwan dengan produk fillet nila, dengan pasokan bahan baku dari Medan dan Sulawesi. Ikan tenggiri pun tak luput dari pengamatannya, melalui sebuah pameran yang dihelat di Vietnam 2015 lalu ia memperoleh konsumen untuk produk tersebut di Vietnam. Sementara patin ia maksimalkan untuk kebutuhan lokal yang masih luas untuk dipenuhi.

Usaha ekspor yang digelutinya memang belum begitu lama, baru berjalan 3 tahun semenjak 2013 lalu. Produk yang dibesutnya memang memiliki pangsa pasar kelas menengah dan bawah meski tidak meninggalkan beberapa produk untuk pasar kelas atas. Ia memisalkan untuk produk bakso ikan di segmen pasar menengah dalam satu harinya bisa mencapai 4 – 5 ton produksi. Pasar domestik yang disasar mencakup Sumatera dan Jabodetabek. Merek yang digunakan oleh Suharjito adalah “Kings Food”.

Miliki Kapal

Guna mendukung program Kementerian Kelautan dan Perikanan, semenjak dilarangnya kapal penangkapan ikan asing dan eks asing berlayar di perairan Indonesia, Suharjito pun merespon dengan membuat 10 buah kapal penangkapan ikan. Kapal yang telah selesai menurut Suharjito sebanyak 5 buah sedang yang telah mengantongi izin untuk berlayar dan menangkap ikan baru 2 buah saja. Kapal yang dimilikinya memiliki bobot masing-masing  100 GT.

Kapal-kapal tersebut diperuntukkan untuk menangkap ikan guna mencukupi permintaan akan bahan baku olahan ikan dan ikan segar para pedagang yang ada di beberapa pasar yang telah menjadi langganannya. Dia tidak ingin melakukan perdagangan ikan hanya saat-saat tertentu saja, namun perluasan pasar menjadi salah satu tujuannya. “Tentu agar ada kepastian pasokan, karena dari nelayan tidak bisa diukur,” ujarnya.

Pria yang memiliki hobi bekerja ini menilai perizinan yang ada di Indonesia sebagai hambatan utama dalam mengembangkan usaha. Dari 5 kapal yang telah jadi baru 2 saja yang mengantongi izin, padahal permohonan telah diajukan jauh-jauh hari sebelumnya.

Pengurusan izin budidaya tambak miliknya pun mengalami proses yang panjang dalam memperoleh 9 izin yang harus dipenuhi. “Perlu waktu satu tahun untuk mendapatkan izin tambak di Bengkulu,” keluhnya. Ia berharap agar kementrian terkait dapat memperbaiki sektor perizinan agar industri dalam negeri dapat berkembang.

Sumber : http://www.trobos.com/detail-berita/2016/01/15/43/7045/suharjito-dari-olahan-budidaya-sampai-penangkapan-ikan

Comments are closed.